Rabu, 19 Januari 2011

Kematian Tuhan...

Indonesia tidaklah mempunyai tuhan lagi sekarang. Tuhan di negara ini telah mati. Tuhan telah mati dubunuh rakyat indonesia sendiri. Secara tidak langsung, rakyat telah terlibat dalam pembunuhan tuhan jangka panjang. Kalau sudah begitu, sepertinya pancasila kita perlu direvisi, atau diamandemen, menyusul kematian tuhan. Terutama sila pertama, karena tuhan sudah mati, maka bunyi sila “Ketuhanan yang Maha Esa” sudah semestinya diganti. Ada satu kekuatan baru yang telah berdandan gagah bersiap menggantikan posisi tuhan di sila pertama. Apa itu ?,...... Uang.


Kalau kita cermati dan terapkan di kehidupan sehari-hari, secara tidak langsung, bunyi sila pertama dasar negara kita sekarang adalah “Keuangan yang Maha Esa”. Sakit hatikah tuhan mengetahui dirinya tergantikan ?, kita tidak perlu mengkhawatirkan hal terseut, kenapa ?, tentu saja, karena Dia telah “mati” di Indonesia ini. Tuhan sudah tudak bisa mengetahui dirinya, tidak merasakan dirinya. Yang Dia dan kita tahu hanya, bahwa ia telah mati.


Kini, Uanglah yang berkuasa. Uang yang menjadikan dirinya berkuasa ataukah kita yang menyembahnya, menjadikannya menggantikan tuhan ?


Dengan uang, segalanya bisa ada ditangan kita. Dengan uang, segalanya bisa kita miliki. Buat apa ibadah, dengan uang, kita bisa membangun tempat ibadah, yang mungkin, pahalanya akan lebih banyak daripada ibadah kita, yang bahkan belum tentu sungguh-sungguh.


Dengan uang pula, senyuman pun dapat kita beli.


Dengan uang, perasaan dan hatipun dapat kita beli.


Dengan uang, kita bisa bebas mencipta dan membinasakan apapun.


Dengan uang, kita bisa berkuasa. Tidak salah bukan jika dikatakan, kekuatan uang lebih hebat daripada “kunfayakun”.....


Uang adalah dahsyat, uang adalah hebat, uang adalah esa, uang berkuasa..., uang itu surga..... Uang itu Tuhan.


Salahkah ? Marahkah anda ? Bencikah anda ? Atau, Benarkah ? Setujukah kita ?


Tahukah kita...kitalah pembunuh...Kita menggeser nilai-nilai ketuhanan dalam diri kita dengan uang...Tak perlulah naik-turun bersujud, memaksa keluar air mata taubat, berdoa pada tuhan.... Tuhan yang dituju telah mati...Percuma !


Cukuplah mencari uang sebanyak-banyaknya. Tak perlu takut halal atau haram, Tuhan sudah mati...berkeliaranlah di dunia, carilah uang. Bekerja keraslah, berusahalah, carilah uang yang maha esa itu. Tak perlu takut menyikut teman, tak perlu takut mencekiak anak, tak perlu ragu membunuh, tak harus sembunyi-sembunyi. Di siang bolong pun anda bisa merampok uang. Tak perlu takut dipenjara. Uang dapat membebaskan anda. Tak usahlah ada pengadilan, penyitaan, pembelaan, apalah itu, tidaklah penting lagi.

Uanglah yang mengadili anda, uanglah yang membela anda, uanglah yang menolong anda. Simpanlah uang sebanyak-banyaknya. Sembahlah ia...beri sesajen, sujudlah padanya ! Derita kita untuknya, bahagia kita bersamanya !


Janganlah naif, jangan munafik. Ajaran tuhan kita yang dahulu itu mengajarkan bahwa orang munafik bertempat di neraka, itu juga jika neraka masih ada tentunya. Sekali lagi, jangan naif dan membohongi diri sendiri. Kita harus mengakui bahwa kenyataan tentang kematian tuhan ini telah terjadi di Indonesia. Sekarang uanglah yang berkuasa. Bukti ?


-Hukuman pengadilan dapat diperingan dengan uang.

-Anda bisa keluar masuk penjara dengan uang.

-Anda bisa pintar dengan uang.

-Jelas, Kaya karena uang.

-Jangan mimpi sekolah kalau tak punya uang.

-Jangan mimpi jadi Kepala Desa kalau tak punya uang.

-Jangan sakit kalau tak punya uang.

-Jangan mati kalau tak punya uang untuk beli tanah kuburan atau biaya tahlilan.

-Jangan menikah kalau tak punya uang.

-Jangan bekerja dengan jujur kalau ingin uang.

-Jangan berwisata kalau tak punya uang.

-Jangan makan enak kalau tak punya uang.

-Jangan berbuat jahat kalau tak punya uang untuk menebus penjara.

-Jangan berbuat baik kalau ingin uang.

-Jangan ke mall kalau tak punya uang.

-Jangan ke restauran kalau tak punya uang.

-Jangan hidup kalau tak punya uang....


Uang...uang...uang...uang....dan uang. Tidaklah salah bukan kalau dikatakan uanglah yang berkuasa ? Lagi-lagi, jangan naif !


-Apa tujuan anda bersekolah ? Biar dapat kerja dan ujung-ujungnya uang kan ?

-Apa benar kita ikhlas menolong ? Atau kita ingin uang ?

-Apa yang anda minta saat beribadah ? Uang kan ? Salah satunya mungkin....


Kalau sudah begitu, apa masih ada lillahi ta'ala... Tidak kan ? Kenapa ? Tuhan telah “mati” ! Uang yang menggantikannya.


Jangan menyalahkan uang, salahkah uang ? Ia kah yang membunuh tuhan ? Bukan ! Sangat-sangat bukan. Bukan uang yang bersalah. Kitalah yang mengangkat uang, benda mati tak bernyawa dan jauh tidak berharga dibandingkan sebuah nyawa tikus ini menjadi tuhan.... Kita yang telah membunuh Tuhan... Kitalah yang telah “mematikan” Tuhan dalam diri kita, menghapus nilai-nilai ketuhanan dalam hati kita...


Jangan sombong. Tuhan tidak pernah mati, Tuhan tidak bisa mati, Tuhan ialah kekal abadi. Namun, tuhan dalam diri kita, mungkin telah benar-benar mati, karena ulah kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar