Rabu, 26 Januari 2011

ANGKOT...


Ketika itu hari minggu, sekitar awal Desember 2010, saya sedang dalam perjalanan ke Jakarta Selatan (gak tau mau ngapain). Dari depan ITC BSD, langsung saja saya naik Angkot Kijang baret Putih jurusan Muncul-Kalideres, angkot itu hanya berisikan 2 orang penumpang, pria dan wanita. Bangku depan kosong, jadi saya memilih duduk disitu.

Angkot berangkat, kencang, lebih kencang daripada angkot baret merah apalagi angkot biru
(yang bahkan dengan berlaripun, lebih cepet lari...). Lupa berawal darimana, akhirnya saya mengobrol dengan supir angkot itu. Lahir Tangerang, umur kelihatannya sekitar 30-40 tahunan, badan besar, logat keras, kasar, tapi ngakunya asli sunda. Saya nanya-nanya seputar kehidupannya. Ia bercerita mulai menyupir angkot sejak tahun 2000an, dua tahun setelah reformasi (
apa itu reformasi ?kapan-kapan saja dibahas...).

Lanjut lagi, awalnya ia ia menjadi supir truk angkutan barang, kemudian ia ikut temannya, dan jadilah sebagai supir angkot. Kira-kira berarti sudah 10 tahunan bapak ini bawa angkotnya keliling. Dari dulu, ia beroperasi di trayek Muncul-Kalideres. Beda provinsi beda kota kan berarti (sangar, angkot aja bisa antar provinsi, harusnya sudah ganti nama jadi AKAP tuh...). Yang saya perhatikan disini adalah keluhannya. Sekedar info, BSD (tangsel,red) ini kan sering macet di jam2 pulang dan berangkat kerja, entah itu depan WTC lah, Atau arah Summarecon, atau Alam Sutra.

Kata Bapak angkot itu, sekarang kendaraan pribadi banyak, terus beberapa jalan rusak, sementara dia harus "narik" di trayek yang lumayan panjang Serpong-Kalideres bung !. Dia berangkat pagi sekitar jam 9an, dan putar-putar trayek 3 kalian, pulang-pergi. Bisa dibayangkan capek dan bosannya, dan itu tiap hari, dan udah berapa tahun...., lama kan. Ia mengaku, memang capek, tapi harus disiasati, ia berbagi rejeki dengan sopir bebas, artinya, di suatu pos, ia diganti dengan seorang sopir lepas, dan pembagian keuntungannya, tergantung penumpang yang didapat sopir lepas itu.

Karena berbagai macam hal itu, akhirnya tak jarang ia harus ngebut untuk cari penumpang, maklumlah, kan harus nyetor, belum lagi uang bensin, kata dia, kalo pas keluar (siap "narik") bensin penuh, pas pulang juga harus penuh. Pendapatan tak tentu, berkali-kali saya bertanya, minimal berapa, tak dijawab, ya sudahlah... tapi kalo dikira-kira, ada mungkin 30-40 ribu dalam 12 jam sehari. Yaah, dihitung lah sebulan berapa, dibandingkan dengan biaya hidup metropolitan ini, dikit pasti. Kata dia, cukuplah, dicukup-cukupin,haha....

Entah harus bagaimana membantu orang seperti itu ya, angkot banyak, penumpang ya segitu-gitu aja, angkot ngebut, penumpang ribut, kalo kelamaan, juga ribut. Yaah, karena itu, sekali-kali jangan sungkan ngasih lebih ke angkot lah...itung-itung beramal.... Angkot itu kan salah satu obyek mata yang sering kita lihat di sini, kalo pemerintah ribut dan ngeles ngurusin beginian, kenapa gak kita aja yang bantu, rakyat kecil untuk rakyat kecil, yang besar-besar berdasi itu juga toh nanti akan tumbang sendiri...haha....Rakyat untuk Indonesia !

Minggu, 23 Januari 2011

devide et impera 2

Sekedar opini saja, rasanya timbul pertanyaan, apa kita ( indonesia ) sedang dikacaukan oleh suatu cara politik lawas, yakni devide et impera. Politik inilah yang kiranya menjadi alasan kenapa Belanda atau orang dulu bilang kumpeni mampu bertengger diatas nusantara selama 300an tahun.

Dalam bahasa indonesia, devide et impera disebut juga politik pecah belah, dalam bahasa inggris itu berarti divide and rule, dari bahasa saja kita bisa melihat makna dan aplikasinya, sehingga kenapa nusantara dahulu kala begitu tertindas.

Sedikit berpendapat saja tentang masa dahulu, jaman kita belum lahir, sebenarnya Indonesia ini sudah merupakan kekuatan yang besar lho, cuma karena dipecah belah, maka jadi gampang sekali untuk ditaklukkan. Ibarat sebuah koloni semut, anggaplah semua jenis semut itu saling mengenal, dari semut merah, hitam, rangrang, semut pekerja, ratu, segala macam lah semut itu, semuanya kenal dan berdiam di sarang. Lalu datanglah beberapa ekor parasit diluar koloni gabungan semut itu. Parasit ini awalnya cuma menumpang untuk mencari makan, karena semut-semut itu baik hati, maka silahkan saja. Lama-kelamaan, parasit tak tahu diri ini semakin betah dan tak mau pulang, mereka ingin menguasai sarang semut ini, akhirnya disinilah aplikasi dari devide et impera dimulai, oleh sebuah parasit dari dunia sana. Mulai timbul perpecahan diantara koloni semut itu, mulai muncul elitisme golongan diantara koloni campuran semut itu. Singkatnya, koloni semut yang besar itu terpecah belah dan parasit berkuasa. Saat sebagian golongan semut menyadari bahwa mereka dijajah, diperbudak, diperalat, mereka tidak mempunyai cukup kekuatan untuk memberontak, selain itu pula mereka terpisah pisah oleh tempat dan waktu, alhasil, berhasillah itu parasit menguasai sarang semut itu.

Kurang lebih ceritanya seperti diatas, lalu, sebenarnya timbul pertanyaan dalam diri saya, sekarang di Indonesia sudah terlihat, baik itu melihat dengan jelas, atau hanya menerawang, mau tersirat atau tersurat, yang jelas menurut saya, sekarang indonesia ini sedang terpecah belah, seperti sebuah piring yang retaknya sudah tidak karuan. Timbul pemikiran, apa kita ini sekarang sedang terkena politik devide et impera lagi ?, tapi oleh siapa, kita tidak bisa atau susah melihat, siapa sebenarnya common enemy kita sekarang. Kalau mau diperhatikan, bangsa ini kadang-kadang bersatu kalau sedang kepepet lho, atau sedang merasa punya musuh yang sama, seperti dengan Malaysia pada AFF kemarin. Kita ini kan bukan bangsa yang lemah, bodoh, tak bersemangat, dll. Tapi sebenarnya, harusnya sih kebalikan dari itu semua, tapi kenapa sekarang begini.

Kita ini, mungkin, lagi-lagi menurut saya (lagipula, ini kan blog saya..haha), kita ini punya musuh bersama, siapa, banyak lagi. entah itu disebut Kapitalislah, Baratlah, Liberalislah, Zionislah, apapun itu, yang penting sekarang didepan kita ini ada musuh, harus dihadapi bersama, tetapi dasar mungkin mereka terlalu pintar, atau karena Devide et impera itu sangat ampuh, sehingga bangsa kita lebih suka ribut sendiri, pemilulah, agamalah, tanahlah, anaklah, bolalah, Cabelah, apapun itu, intern kita masih belum bagus. Lha bagaimana mau menghadapi musuh yang diluar, sudah tak terlihat, diluar lagi, makin tak terjangkaulah itu musuh. Harus bagaimanakah kita ?.

Kembali lagi ke devide et impera tadi, politik ini hanya sebuah cara, pasti ada penggerak dibelakangnya, dan seharusnya kita sadar dan segera mengatasinya. Bagaimana....
Nanti saya lanjutkan lagi, kembali membicarakan tentang Devide et Impera yang ke-2 ini...
Politik pecah belah, saya lebih suka menyebut Politik Kelontong, barang pecah belahnya banyak....
Apa bangsa ini gampang dipecah ? lihat nanti....

Rabu, 19 Januari 2011

Kematian Tuhan...

Indonesia tidaklah mempunyai tuhan lagi sekarang. Tuhan di negara ini telah mati. Tuhan telah mati dubunuh rakyat indonesia sendiri. Secara tidak langsung, rakyat telah terlibat dalam pembunuhan tuhan jangka panjang. Kalau sudah begitu, sepertinya pancasila kita perlu direvisi, atau diamandemen, menyusul kematian tuhan. Terutama sila pertama, karena tuhan sudah mati, maka bunyi sila “Ketuhanan yang Maha Esa” sudah semestinya diganti. Ada satu kekuatan baru yang telah berdandan gagah bersiap menggantikan posisi tuhan di sila pertama. Apa itu ?,...... Uang.


Kalau kita cermati dan terapkan di kehidupan sehari-hari, secara tidak langsung, bunyi sila pertama dasar negara kita sekarang adalah “Keuangan yang Maha Esa”. Sakit hatikah tuhan mengetahui dirinya tergantikan ?, kita tidak perlu mengkhawatirkan hal terseut, kenapa ?, tentu saja, karena Dia telah “mati” di Indonesia ini. Tuhan sudah tudak bisa mengetahui dirinya, tidak merasakan dirinya. Yang Dia dan kita tahu hanya, bahwa ia telah mati.


Kini, Uanglah yang berkuasa. Uang yang menjadikan dirinya berkuasa ataukah kita yang menyembahnya, menjadikannya menggantikan tuhan ?


Dengan uang, segalanya bisa ada ditangan kita. Dengan uang, segalanya bisa kita miliki. Buat apa ibadah, dengan uang, kita bisa membangun tempat ibadah, yang mungkin, pahalanya akan lebih banyak daripada ibadah kita, yang bahkan belum tentu sungguh-sungguh.


Dengan uang pula, senyuman pun dapat kita beli.


Dengan uang, perasaan dan hatipun dapat kita beli.


Dengan uang, kita bisa bebas mencipta dan membinasakan apapun.


Dengan uang, kita bisa berkuasa. Tidak salah bukan jika dikatakan, kekuatan uang lebih hebat daripada “kunfayakun”.....


Uang adalah dahsyat, uang adalah hebat, uang adalah esa, uang berkuasa..., uang itu surga..... Uang itu Tuhan.


Salahkah ? Marahkah anda ? Bencikah anda ? Atau, Benarkah ? Setujukah kita ?


Tahukah kita...kitalah pembunuh...Kita menggeser nilai-nilai ketuhanan dalam diri kita dengan uang...Tak perlulah naik-turun bersujud, memaksa keluar air mata taubat, berdoa pada tuhan.... Tuhan yang dituju telah mati...Percuma !


Cukuplah mencari uang sebanyak-banyaknya. Tak perlu takut halal atau haram, Tuhan sudah mati...berkeliaranlah di dunia, carilah uang. Bekerja keraslah, berusahalah, carilah uang yang maha esa itu. Tak perlu takut menyikut teman, tak perlu takut mencekiak anak, tak perlu ragu membunuh, tak harus sembunyi-sembunyi. Di siang bolong pun anda bisa merampok uang. Tak perlu takut dipenjara. Uang dapat membebaskan anda. Tak usahlah ada pengadilan, penyitaan, pembelaan, apalah itu, tidaklah penting lagi.

Uanglah yang mengadili anda, uanglah yang membela anda, uanglah yang menolong anda. Simpanlah uang sebanyak-banyaknya. Sembahlah ia...beri sesajen, sujudlah padanya ! Derita kita untuknya, bahagia kita bersamanya !


Janganlah naif, jangan munafik. Ajaran tuhan kita yang dahulu itu mengajarkan bahwa orang munafik bertempat di neraka, itu juga jika neraka masih ada tentunya. Sekali lagi, jangan naif dan membohongi diri sendiri. Kita harus mengakui bahwa kenyataan tentang kematian tuhan ini telah terjadi di Indonesia. Sekarang uanglah yang berkuasa. Bukti ?


-Hukuman pengadilan dapat diperingan dengan uang.

-Anda bisa keluar masuk penjara dengan uang.

-Anda bisa pintar dengan uang.

-Jelas, Kaya karena uang.

-Jangan mimpi sekolah kalau tak punya uang.

-Jangan mimpi jadi Kepala Desa kalau tak punya uang.

-Jangan sakit kalau tak punya uang.

-Jangan mati kalau tak punya uang untuk beli tanah kuburan atau biaya tahlilan.

-Jangan menikah kalau tak punya uang.

-Jangan bekerja dengan jujur kalau ingin uang.

-Jangan berwisata kalau tak punya uang.

-Jangan makan enak kalau tak punya uang.

-Jangan berbuat jahat kalau tak punya uang untuk menebus penjara.

-Jangan berbuat baik kalau ingin uang.

-Jangan ke mall kalau tak punya uang.

-Jangan ke restauran kalau tak punya uang.

-Jangan hidup kalau tak punya uang....


Uang...uang...uang...uang....dan uang. Tidaklah salah bukan kalau dikatakan uanglah yang berkuasa ? Lagi-lagi, jangan naif !


-Apa tujuan anda bersekolah ? Biar dapat kerja dan ujung-ujungnya uang kan ?

-Apa benar kita ikhlas menolong ? Atau kita ingin uang ?

-Apa yang anda minta saat beribadah ? Uang kan ? Salah satunya mungkin....


Kalau sudah begitu, apa masih ada lillahi ta'ala... Tidak kan ? Kenapa ? Tuhan telah “mati” ! Uang yang menggantikannya.


Jangan menyalahkan uang, salahkah uang ? Ia kah yang membunuh tuhan ? Bukan ! Sangat-sangat bukan. Bukan uang yang bersalah. Kitalah yang mengangkat uang, benda mati tak bernyawa dan jauh tidak berharga dibandingkan sebuah nyawa tikus ini menjadi tuhan.... Kita yang telah membunuh Tuhan... Kitalah yang telah “mematikan” Tuhan dalam diri kita, menghapus nilai-nilai ketuhanan dalam hati kita...


Jangan sombong. Tuhan tidak pernah mati, Tuhan tidak bisa mati, Tuhan ialah kekal abadi. Namun, tuhan dalam diri kita, mungkin telah benar-benar mati, karena ulah kita sendiri.